Belitung Today: Pokok dan Tokoh
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pokok dan Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pokok dan Tokoh. Tampilkan semua postingan

BUPATI BELITUNG MEMBUKA KEGIATAN GELAR TEKNOLOGI TEPAT GUNA

Written By Belitungku.NET on Minggu, 07 April 2013 | 17.05




Tanjungpandan - Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Perempuan Dan Keluarga Berencana (BPMPDKB) Kabupaten Belitung, menggelar acara Teknologi Tepat Guna Kabupaten Belitung (Kamis, 4/4) bertempat di Halaman Kantor BPMPDKB Kabupaten Belitung. 

Kepala BPMPDKB, Suharyanto, S.AP melalui Ketua Pelaksana Kegiatan A. Eko Wijarnoko,SH dalam laporannya menyampaikan, Kegiatan ini adalah salah satu kegiatan rutin dan diupayakan dapat memberikan informasi tentang Teknologi Tepat Guna yang dihasilkan oleh para inovator kepada masyarakat. kemudian, ini merupakan seleksi awal rangkaian kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi dan Tingkat Nasional. 

Untuk pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi direncanakan pada awal bulan Mei 2013. Sedangkan untuk Tingkat Nasional direncanakan akan diadakan di Padang pada bulan Oktober 2013. Tujuan dari pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Tingkat Kab.Belitung ini yaitu diharapkan dapat mempercepat dan menyebarluaskan Teknologi Tepat Guna secara lebih merata, mendorong tumbuhnya inovasi, modifikasi dibidang teknologi serta mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan hasil produksi dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. Jumlah peserta 28 Kelompok/Orang yang berasal dari SMP, SMA/Sederajat, dan peserta Umum Se-Kabupaten Belitung yang dinilai langsung oleh Tim penilai dari Unsur SKPD Kabupaten Belitung. 

Kegiatan  Gelar Teknologi Tepat Guna juga dilakukan bersamaan dengan diluncurkannya program baru BPMPDKB Kabupaten Belitung yaitu “ Genre Goes to School ” yaitu program yang diharapkan mampu untuk memotivasi kaum pelajar serta anak-anak muda agar mempunyai rencana kedepannya supaya mempunyai tujuan hidup yang jelas. Bupati Belitung Ir H Darmansyah Husein yang berkesempatan hadir serta membuka acara  pada kegiatan tersebut dalam sambutannya mengatakan “ Apa yang dilihat hari ini adalah sebuah pekerjaan yang terencana dan bukan main-main. Saya akan ambil dan simpan hasil dari Teknologi Tepat Guna yang menurut saya layak untuk itu. Kalau bisa yang jadi juara ada catatannya atau paling tidak kita museumkan, supaya generasi yang akan datang bisa tahu apa yang sudah dibuat dan memudahkan mereka memahami serta mengembangkan teknologi tersebut menjadi lebih baik . Berkaitan dengan program baru tersebut siswa siswi diharapkan bisa termotivasi serta mempunyai cita-cita yang jelas dimasa yang akan datang. Akan tetapi bukan hanya mempunyai cita-cita saja, melainkan berfikir bagaimana cara mewujudkan cita-cita tersebut menjadi kenyataan”, jelasnya. 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I Setda Kabupaten Belitung Hj. Maiya Hasibuan,SH, Kepala Bappeda Kabupaten Belitung, Ir Hermanto serta tamu undangan lainnya. 


Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Perempuan Dan Keluarga Berencana


Belitungku.com
Belitung News and Entertainment Online,
Portal Berita Belitung dan Hiburan secara Online.

"Museum Kata" Andrea Hirata, Berubah Nama

Written By Belitungku.NET on Sabtu, 06 April 2013 | 08.09

Foto marianabita


BELITUNG - Museum Kata Andrea Hirata, Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur rencananya akan berganti nama dalam waktu dekat. Nama baru museum yang terletak di Jalan Laskar Pelangi nomor 7 ini dipersingkat menjadi 'Museum Andrea Hirata'.

Penulis Novel Laskar Pelangi Andrea Hirata mengatakan, perubahan nama itu bukan sekadar untuk mempersingkat kata atau mencari popularitas saja. Namun, sebagai upaya untuk mengakomodir perluasan misi galeri.

"Saya ingin galeri ini juga berfungsi sebagai pusat budaya, sehingga kalau menggunakan museum kata, konteksnya akan terbatas pada seni sastra saja," jelas Andrea kepada Bangkapos.com, Jumat (5/4/2013) pagi.

Menurut Andrea, sejumlah even kebudayaan ke depan akan ikut meramaikan museum. Ia juga membuka museumnya secara gratis bagi para seniman dan budayawan untuk berkreasi.

Untuk memperluas promosi museum, Andrea juga membuat sebuah blog khusus dengan alamat www.museumandreahirata.blogspot.com. Dalam waktu dekat, plank papan nama museum juga akan diubah dengan nama baru.

"Segera perubahan nama ini akan dilakukan, saya berharap ini juga tetap akan menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan," ujarnya.

Dari sudut pandang Andrea, museumnya kini membuktikan bahwa wisata budaya masih menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan untuk datang ke Beltim. Terbukti, selama ini kebanyakan wisatawan yang
memilih paket tiga hari tiga malam akan menyempatkan diri untuk mengunjungi replika SD Laskar Pelangi dan Museum Kata Andrea Hirata.

Pantauan Bangkapos.com, Jumat (5/4/2013) kunjungan wisatawan di museum tersebut tak terhenti sejak pagi hingga siang. Dari sebagian besar wisatawan domestik yang berkunjung, tampak juga dua orang wisatawan mancanegara. Sebagian dari mereka datang dalam rombongan besar dengan menggunakan bus, dan sebagian lainnya hanya bersama keluarga.

Bagian paling menyenangkan dari kunjungan wisatawan tersebut adalah saat mereka mendapati Andrea Hirata di tempat. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh wisatawan untuk berfoto bersama dengan sang
penulis.



Sumber: Bangkapos.com - Jumat, 5 April 2013 22:26 WIB
Belitungku.com 
Belitung News and Entertainment Online, 
Portal Berita Belitung dan Hiburan secara Online.

Garuda Menyusul Terbangi Belitung

Basuri T Purnama

BELITUNG - Bupati Belitung Timur Basuri T Purnama tak berdiam diri terhadap kondisi transportasi udara dari dan menuju Pulau Belitung, agar dunia pariwisata di Belitung Timur dan Belitung semakin berkembang.

Tak hanya itu, dengan semakin banyaknya maskapai yang melayani penerbangan ke Pulau Belitung, tentu harga tiket pesawat menjadi bersaing, warga masyarakat akan menikmati harga tiket yang lebih terjangkau.

Basuri juga menyempatkan diri terbang dari Jakarta ke Belitung dan kembali lagi ke Jakarta saat penerbangan perdana Citilink rute Jakarta-Tanjungpandan, Jumat (5/4/2013).


"Mantap ini, Citilink sudah masuk. Perjuangan akan saya lakukan demi majunya Pulau Belitung" ungkap Basuri melalui pesan pendek (SMS) yang diterima Bangkapos.com, Jumat (5/4/2013).

Ia menuturkan dengan semakin banyak pesawat yang melayani penerbangan ke Pulau Belitung, tentu akan ada persaiangan. Sehingga harga tiket pesawat pun semakin wajar, wisatawan yang datang ke Pulau Belitung makin banyak, warga masyarakat di Pulau Belitung tak lagi mengeluh soal harga tiket pesawat.

"Efek domino yang sangat luas bagi masyarakat, bila semakin banyak wisatawan berkunjung ke Pulau Belitung, mulai dari cinderamata, kuliner, jasa perhotelan dan lainnya," tutur Basuri yang sedang di dalam pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, menunggu keberangkatan menuju Amerika Serikat.

Basuri menambahkan pihak Garuda sudah menenuminya beberapa hari yang lalu, tentu ini sebuah kesempatan agar Garuda juga bisa melayani penerbangan ke Pulau Belitung.

"Garuda diminta kawal aku, untuk masuk Belitung," ujarnya.



source: Bangkapos.com - Jumat, 5 April 2013 21:59 WIB
Belitungku.com
Belitung News and Entertainment Online,
Portal Berita Belitung dan Hiburan secara Online.

Wahyu Effendy: Kapal Hisap dan Masa Depan Babel

Written By Belitungku.NET on Selasa, 02 April 2013 | 06.36


Artikel Opini ini ditulis oleh Bapak Wahyu Effendy pada tanggal 26 Oktober 2010.

Di tengah menguatnya perfektif pembangunan berkelanjutan yang berbasis lingkungan hidup, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung justru berencana mengijinkan beroperasinya kapal hisap di perairan lepas pantai Belitung. Kebijakan ironis tersebut kontan mendapat tentangan dari berbagai lapisan masyarakat di Belitung terutama dari masyarakat nelayan. Bahkan Komisi II dan III DPRD Kabupaten Belitungpun ikut menyatakan penolakannya.

Foto:http://www.sayangbabel.org/
Sekalipun dengan motif ekonomi ataupun dengan alasan sahih UU No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba, kekukuhan Pemkab Belitung tersebut patut dipertanyakan. Selain bahwa penerimaan daerah yang diterima dari kapal hisap tersebut tidaklah signifikan menurut Ketua Komisi III DPR Kab. Belitung, Ishak Holidi, ancaman terhadap kelestarian ekosistem laut, dan potensi kerugian ekonomis di sektor perikanan laut, visi dan arah kebijakan pembangunan Bupati Belitung inipun menjadi pertanyaan : Mau dibawa kemanakah perekonomian Babel?

Tidak perlu penelitian yang mendalam dan rumit untuk mempertimbangkan kebijakan pengoperasian kapal hisap ini. Kapal hisap serupa sesungguhnya juga sudah beroperasi di Provinsi Babel yaitu di Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangsa Selatan. Pengoperasian 3 (tiga) kapal hisap milik PT Timah sejak tahun 2004 telah mengakibatkan kemunduran aktivitas ekonomi masyarakat desa Permis, Rajik dan Sebagin.

Menurut Yudho Marhoed, SH, Koordinator Simpul WALHI Sumatera Selatan untuk wilayah Kepulauan Bangka Belitung, pendapatan nelayan di sekitar wilayah perairan tersebut mengalami penurunan hingga mencapai 80%, dari sekitar Rp 400 ribu/sekali melaut menjadi hanya berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu/sekali melaut. Bukan angka yang kecil, kerugian kolektif masyarakat nelayan tersebut dalam satu tahun bisa mencapai Rp 14,4 Milyar hingga Rp 15 Milyar !!. Angka tersebut belum tentu sepadan dengan pemasukan yang diterima oleh daerah. Berdasarkan kenyataan pahit akibat kapal hisap tersebut akankah kebijakan yang merugikan masyarakat tersebutakan dilanjutkan kembali oleh Pemkab Belitung?

Keberadaan kapal hisap merupakan salah satu kasus dari permasalahan klasik perekonomian Kab. Belitung khususnya dan Provinsi Babel umumnya yaitu : dilema Timah. Bahwa Timah masih menjadi andalan perekonomian Babel ataupun Belitung, namun keberlanjutannya akan mengakibatkan kerusakan alam yang semakin besar dan menyurutkan potensi sektor ekonomi lainnya.

Dan paling esensi, diijinkannya pengoperasian kapal hisap di Bangka Selatan dan rencananya di Belitung menunjukkan ketidaksiapan dan ketiadaan visi pembangunan pasca Timah dari jajaran pemerintahan Babel, seperti yang juga diragukan oleh pakar lingkungan hidup, Prof. DR. Emil Salim. Sekalipun masyarakat Babel juga mempunyai andil, namun ketidakjelasan visi pembangunan sebagaimana slogannya BABEL TANPA TIMAH, menjadi causa prima munculnya permasalahan kapal hisap ataupun aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) yang tak terkendali.

Keberlanjutan industri Timah tidak saja berdampak kepada perusakan alam yang secara transparan dapat disaksikan dengan adanya kolong-kolong ’kolam susu’, namun secara ekonomis juga menggerus potensi ekonomis berbagai bidang yang seharusnya menjadi andalan perekonomian masa depan Babel. Persoalan kapal hisap di Bangka Selatan menjadi gambaran nyata, pemasukan milyaran rupiah dari Timah akan menggerus Rp 15 milyar penghasilan dari perikanan laut. Terhadap sektor pariwisata, pemandangan kapal hisap di pesisir pantai Bangka dan Belitung, jelas bukan pemandangan yang ’indah’ yang layak dijual!

Siap atau tidak, visi pembangunan pasca Timah harus segera dirumuskan dalam kebijakan daerah yang memandu masyarakat ke bidang-bidang perekonomian non-Timah. Transisi perekonomian tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada kreatiftas dan inisiatif masyarakat. Peran dan inisiatif Pemkab atau Pemprov justru diharapkan dapat menjadi ’leading agent’ yang memfasilitasi dan memandu terwujudnya proses transisi. Mengingat dampaknya yang semakin kompleks dan akibatnya kepada masyarakat, inisiiatif tersebut patut segera direalisasikan melalui program dan kebijakan nyata.

Dengan tingkat cadangan terukur Timah di Indonesia yang diprediksi tersisa tidak lebih dari 12 tahun lagi menurut US Geological Survey tahun 2006, tiada pilihan bagi Pemda untuk berbenah dengan segala infrastruktur dan suprastruktur perekonomian alternatif. Apalagi kalau harus juga mempertaruhkan potensi perikanan laut, pariwisata, dan berbagai bidang lainnya yang dampaknya dapat berakibat jauh lebih panjang. Gagasan pembangunan alternatif sudah banyak disampaikan berbagai kalangan, selanjutnya hanya membutuhkan komitmen Pemda Babel.

Di tengah lintasan perairan internasional, sektor perikanan yang sudah menghasilkan kapitalisasi mencapai Rp 250 milyar per tahun dan berpotensi berkembang lebih besar. Pariwisata dengan berbagai panorama bahari yang eksotik dan keberagaman budaya yang harmonis adalah potensi unggulan perekonomian Babel masa depan. Lada juga merupakan potensi yang terlupakan sekalipun Babel pernah menjadi sentra lada dunia yang nilai ekspornya pernah mencapai angka Rp 1.5 trilyun per tahun. Dan berbagai sektor perekonomian lainnya yang mendesak untuk segera direalisasikan dengan upaya nyata dan strategi pembangunan ke depan.

Masyarakat Belitung khususnya dan Babel umumnya, layak berharap masih berkesempatan memiliki mimpi indah negeri ’laskar pelangi’ dengan kehidupan yang jauh lebih sejahtera setelah 12 tahun yang akan datang.




Penulis
www.kompasiana.com/wisantara
Lahir dan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tanjungpandan Belitung, Babel. Saat ini menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi (GANDI) sejak tahun 2005. Aktif menulis opini dan buku tentang sosial, politik dan hukum (HAM)


Belitungku.com
Belitung News and Entertainment Online,
Portal Berita Belitung dan Hiburan secara Online.

Indra Ambalika Syari: Dampak Operasi Penambangan Timah dengan Kapal Isap (KIP)


Permasalahan dari pertambangan timah lepas pantai dengan mengoperasikan kapal isap produksi (KIP) tentunya akan memberikan banyak masalah saat masa operasi produksi. Penulis mencoba merumuskan beberapa masalah yang timbul saat masa ini yaitu :

1. Ekosistem laut rusak 
Tidak dapat dipungkiri, dengan metode pertambangan KIP saat ini yang langsung membuang tailing ke laut maka kekeruhan air laut meningkat drastis. Sebaran dan kecepatan cemaran bisa diperkirakan dari pola dan kecepatan arus, dinamika pasang surut, dan aspek oseanografi lainnya. Sebagai pembanding, hasil simulasi yang pernah dilakukan saat sidang AMDAL di Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh konsultan AMDAL untuk operasi KIP PT AEGA di perairan bagian utara Pulau Bangka, dari sekitar 21.000 ha izin yang diberikan mengakibatkan dampak sedimentasi hingga 502.000 ha pada musim barat. Terumbu karang yang terkena dampak dari tailing KIP biasanya mati tertutup lumpur/sedimen. Apalagi selama ini pengambilan keputusan lokasi penambangan di laut hanya melihat ada atau tidaknya timah bukan melihat ada atau tidaknya ekosistem terumbu karang di lokasi tersebut. Terumbu karang yang mati kemudian ditumbuhi makroalga yang miskin potensi perikanan. Jika hal ini terjadi, maka terumbu karang yang mati hampir tidak mungkin kembali pulih menjadi ekosistem terumbu karang yang sehat. Hal ini karena makroalga akan terus tumbuh mengganti struktur komunitas karang sebelumnya. Dampak turunan dari rusaknya ekosistem laut adalah dengan semakin berkurangnya hasil tangkapan nelayan karena ikan semakin menjauh akibat penurunan habitat ikan. 

Konsep pertambangan timah lepas pantai yang berwawasan lingkungan baru sekedar retorika dan belum ada contoh nyata hingga saat ini di Pulau Bangka. Bahkan PT Timah yang sering mendengungkan istilah ”good mining practice” tidak dapat membuktikannya untuk penambangan di laut. Hal ini diindikasikan oleh reklamasi laut tidak dilaksanakan di Pulau Belitung oleh perusahaan besar ini padahal tidak sedikit hasil timah diambil dengan kapal keruk di perairan laut Pulau Belitung.

2. Beroperasinya KIP akan diikuti dengan munculnya TI (Timah Inkonvensional) Apung 


Pengalaman dari model pertambangan di Pulau Bangka, KIP biasanya dioperasikan oleh pekerja dari luar dareah seperti misalnya dari negara Thailand. Tidak realistis jika orang dari luar boleh mengaduk-aduk laut di depan mata masyarakat lokal sedangkan masyarakat sendiri tidak boleh menambang. Akhirnya masyarakat ikut menambang berpacu merusak lingkungan laut dengan kemampuan seadanya dan standar keselamatan  minimal dengan membuka TI Apung. Permasalahannya adalah siapa yang kemudian bertanggung jawab terhadap kerusakan laut akibat TI Apung? Apakah Pemda mendapat pemasukan (PAD) dari TI Apung?  Selain itu masih banyak lagi permasalahan terkait lainnya.

3. Banyak pendatang dari luar pulau untuk bekerja di TI Apung 
Penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mayoritas adalah Suku Melayu yang secara umum tidak memiliki kemampuan menyelam 5-12 meter di laut. Akhirnya, didatangkan pekerja dari luar daerah yang mempunyai kemampuan menyelam atau nekad menyelam (karena himpitan ekonomi) ke daerah pertambangan. Bukan tidak membolehkan datangnya penduduk luar ke Pulau Bangka Belitung, namun sangat ironis jika penduduk luar datang hanya untuk membuat kerusakan alam dengan menambang di daerah ini. Kedatangan penduduk dari luar daerah akan memberikan damapak negatif di bidang sosial dan budaya. Selain itu, tak jarang terjadi konflik antara penduduk pendatang dengan penduduk asli yang akhirnya akan memperburuk citra pemerintah di daerah tersebut seperti kasus konflik di Kabupaten Bangka Tengah yang baru-baru ini terjadi.

4. Alih profesi dari nelayan ikan menjadi nelayan timah 
Berdasarkan pengalaman di darat, godaan pertambangan membuat banyak petani yang beralih menjadi penambang timah. Bahkan kebun karet, kelekak, dan lahan basah yang subur di darat disulap menjadi lahan tambang. Begitupula di laut, alih profesi dari nelayan ikan menjadi penambang timah laut terjadi di Pulau Bangka seperti di daerah Teluk Limau Kecamatan Parit Tiga Bangka Barat; Kampung Nelayan Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka; Desa Tanjung Gunung Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah; dan Desa Pasir Putih Kecamatan Sadai dan Desa Permis Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Selatan. Ini adalah dampak dari hasil laut yang semakin berkurang akibat rusaknya ekosistem laut sehinga nelayan akhirnya beralih menjadi penambang timah laut. Hal ini menunjukkan bahwa begitu rapuhnya profesi nelayan di daerah ini. Dengan biaya operasional yang semakin meningkat akibat daerah tangkapan yang semakin jauh dan hasil tangkapan yang tidak menentu akhirnya membuat nelayan beralih menjadi nelayan timah.

5. Operasi KIP biasanya akan diikuti dengan munculnya preman (pembela perusahaan) dari kalangan masyarakat dan aparat pemda yang ikut bermain dengan pengusaha. 
Inilah yang telah terjadi di Pulau Bangka. Istilahnya, berani membela yang bayar (pengusaha timah). Zaman sekarang sudah menjadi hal yang wajar jika kita melihat dan mendengar ada orang-orang yang berani menyatakan yang salah adalah sebuah kebenaran. Apalagi penegakan hukum terhadap pertambangan timah laut dengan KIP belum pernah terdengar tegas dan berefek jera. Akhirnya penerapan pertambangan timah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan semakin jauh api dari panggang.

6. Harga ikan dipastikan akan bertambah mahal
Ini merupakan dampak dari biaya operasional untuk melaut yang semakin tinggi. Kerusakan ekosistem laut akan membuat ikan semakin menjauh sehingga nelayan menangkap ikan ke tempat yang lebih jauh pula. Hasil tangkapan pun biasanya lebih sedikit dan ukuran ikan lebih kecil. Waktu melaut pun semakin lama. Meningkatnya biaya operasional inilah yang kemudian membuat harga ikan di pasar semakin tinggi. Parahnya, kenaikan harga ikan yang ditanggung masyarakat/konsumen tidak pernah diperhatikan. Dampaknya kesejahteraan masyarakat semakin menurun karena semakin rendahnya daya beli masyarakat untuk membeli komoditas perikanan laut yang bergizi tinggi tersebut. Dari urairan ini, dapat diketahui bahwa nelayan kecil dan nelayan kater yang merupakan armada semut (one day fishing) dalam penangkapan ikan adalah yang terkena dampak paling besar karena wilayah tangkapannya sangat terbatas

KIP yang beroperasi hanya beberapa meter dari Pulau Pemuja
7. Pengawasan pertambangan laut belum jelas dan tegas
Tidak seperti di darat, batas dari IUP laut tidak diketahui langsung secara kasat mata. Hal inilah yang membuat pengawasan pertambangan di laut berbeda dengan di darat. Di Pulau Bangka terbukti, 100 persen kapal hisap yang beroperasi telah melenceng dari batas IUP yang telah diizinkan (Bangkapos, 16 November 2008). Realita dari kondisi di Pulau Bangka, peran pengawasan laut dari SKPD terkait dampak penambangan timah di laut sepertinya tidak optimal bahkan sangat minim. Hal ini menunjukkan bahwa undang-undang perlindungan lingkungan hidup belum diterapkan sebagaimana mestinya.

8. Warisan yang tidak baik untuk anak cucu
Dampak sosial budaya terhadap penambangan timah yang tidak ramah lingkungan memberikan warisan yang tidak baik kepada anak cucu generasi masa depan daerah ini. Selama beroperasinya penambangan, anak-anak diperlihatkan bagaimana orang tua mereka merusak alam di depan mata mereka. Padahal, seharusnya contoh yang diberikan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan arif dan bijaksana dengan bersahabat dengan alam seperti yang diajarkan oleh norma agama dan budaya masyarakat.

Akhirnya, dari uraian diatas, sudah seharusnya pemerintah daerah berbenah diri mengelola pertambangan timah di laut agar memberikan kemaslahatan yang “seharusnya” untuk masyarakat dan bukan sebaliknya. Timah merupakapan anugerah bagi daerah ini, namun jika tak bijak dalam mengelolanya, tidak mustahil timah menjadi sumber bencana.

Penulis :  Indra Ambalika Syari, S.Pi (Dosen Perikanan UBB)



Belitungku.com
Belitung News and Entertainment Online,
Portal Berita Belitung dan Hiburan secara Online.

Ratno: Walhi dan B-Care Bukan Organisasi Kriminal

Written By Belitungku.NET on Kamis, 28 Maret 2013 | 02.41



BELITUNG - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Babel, Ratno Budi mengatakan, lembaga jaringan seperti Walhi dan Belitung Care (B-Care) bukanlan organisasi ilegal dan kriminal. Pernyataan tersebut menanggapi kecaman puluhan orang yang mengatasnamakan diri masyarakat penambang darat dalam unjukrasa, Selasa (26/3/2013) lalu di Kantor Bupati Belitung dan DPRD Belitung.
Pria yang akrab disapa Uday ini menyayangkan adanya oknum yang mengatasnamakan rakyat dalam aksi unjukrasa tersebut. Menurutnya, puluhan orang ini tidak mengerti mengenai keorganisasian yang diatur dan tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27. Uday menegaskan Walhi dan B-Care bukanlah organisasi kriminal yang harus diusir dari Belitung.

"Kami menyayangkan ada oknum yang mengatasnamakan rakyat tadi tidak memahami hirarki keorganisasian. Sebagaimana yang diatur dan tertuang dalam UUD 45 Pasal 27 soal kebebasan setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul dijamin negara. Dan Walhi serta lembaga jaringan seperti B-Care bukan organisasi kriminal dan ilegal," tegas Uday kepada bangkapos.com, Rabu (27/3/2013).

Walhi sendiri juga mempunyai anggota yang berdiri di Belitung, diantaranya Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB), Gapabel, Forum Masyarakat Sijuk dan Badau serta Forum Masyarakat Pengelola Sampah Air Rayak. Empat lembaga anggota Walhi ini juga ikut mempertanyakan maksud pelaku unjukrasa kemarin yang mendiskreditkan Walhi Babel.

"Demonstran yang mengatasnamakan rakyat kemarin sangat tidak mendidik dan tidak jelas maksud dan tujuannya. Kami juga bersama anggota lembaga di Belitung akan segera memproses ini secara hukum jika memang ditemukan bukti pelecehan lembaga Walhi maupun perbuatan tidak menyenangkan sesuai pasal yang diatur dalam KUHP," ujar Uday.

"Kami sedang melacak otak dan pihak-pihak yang bertanggungjawab dan sebagai aktor intelektual dalam aksi kemarin. Hari ini tim investigasi hukum Walhi dari Jakarta akan tiba di Belitung dan langsung bekerja," lanjut Uday.

sumber: http://bangka.tribunnews.com

Apakah Darmansyah mengundurkan diri untuk pemilu legislatif (pileg) tahun 2014?

Written By Belitungku.NET on Senin, 25 Maret 2013 | 09.07


BELITUNG -- Bupati Belitung Darmansyah Husein belum memastikan diri untuk mengundurkan diri sebagai bupati dan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada pemilu legislatif (pileg) tahun 2014 mendatang. 

Ia mengatakan kepastian itu akan disampaikannya dengan melihat aspirasi masyarakat beberapa waktu terakhir.

"Belum lah, bagaimana bisa saya memastikan itu sebelum saya melihat waktu-waktu kedepan," kata bupati.

Menurut bupati, keputusan mengundurkan diri dan mencalonkan diri ke DPR RI bukan hal mudah. Untuk itu, harus melalui kajian dan pemahaman lebih dalam.




Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Belitung Agustin mengatakan sesuai dengan peraturan KPU nomor 07 tahun 2013 diatur tentang pencalonan DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.

"Jadwalnya 9-22 April 2013, harus melampirkan surat mengundurkan pengunduran diri tersebut atau sebelum daftar calon sementara (DCS)," papar Agustin.

Bangkapos.com - Senin, 25 Maret 2013 20:32 WIB

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Belitung, Amran Muslimin, Ingin Sobek Magazine Sriwijaya Air


BELITUNG - Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Belitung, Amran Muslimin mengatakan tingginya harga tiket penerbangan rute Jakarta-Tanjungpandan bukan kesalahan Sriwijaya Air sebagai satu-satunya maskapai yang melayani rute tersebut.
Menurutnya tingginya harga tiket merupakan sistem pasar yang dijalankan manajemen Sriwijaya Air. Sehingga masyarakat tidak bisa menyalahkan Sriwijaya yang menjual tiket dengan harga tinggi.

Amran mengatakan pihak manajemen Sriwijaya sering menggembar-gemborkan promosi harga tiket yang murah. Namun dalam setiap promosinya di tabloid keluaran Sriwijaya tidak menyebutkan Belitung sebagai rute yang mendapatkan promosi dengan harga rendah.

"Rasanya saya mau sobek magazine Sriwijaya itu, tolong sampaikan ke ownernya. Saya baca di magazine Sriwijaya, disitu ditulis tarif penerbangan termurah. Ke Papua hanya Rp 900 ribu, kemana-mana murah, tapi di Belitung tidak seperti itu," sebut Amran dalam rapat gabungan pencarian solusi tingginya harga tiket di DPRD Kabupaten Belitung, Rabu (20/3/2013).

Bangkapos.com - Rabu, 20 Maret 2013 14:49 WIB

Sahani: Bingung Kondisi Penerbangan di Belitung

Written By Belitungku.NET on Selasa, 05 Maret 2013 | 10.20


BELITUNG--Sahani Saleh, Wakil Bupati Kabupaten Belitung mengatakan, semakin banyak maskapai penerbangan yang bisa masuk ke belitung, maka tentu akan semakin ramai turis yang datang ke daerah ini.
H. SAHANI SALEH, S.Sos (Wakil Bupati Belitung)


"Karena hampir 2.000 wisatawan yang mau masuk Belitung yang terdaftar di tour dan travel batal akibat mahalnya penerbangan dengan harga tiket Rp 860.000- Rp 900.000," ujar Sahani kepada bangkapos.com, usai menghadiri musda asosiasi pengusaha pariwisata (ASPI) Belitung di Hotel Grand Pelangi, Kamis (28/2/2013).

Ia menyatakan keheranannya terhadap pusat dalam hal ini Departemen Perhubungan terhadap teriakan- teriakan yang berkembang mengenai masalah penerbangan di Belitung. 

"Kita bingung terhadap kondisi penerbangan yang terjadi di Belitung. Padahal, Belitung sudah ditetapkan menjadi daerah destinasi wisata," ungkap Sahani.

Oleh karena itu, Sahani mengatakan, jika Dephub tidak mengerti dengan situasi penerbangan yang terjadi di Belitung, maka dirinya bersama pelaku wisata dan masyarakat akan ke pusat agar penerbangan ke belitung bisa bertambah


Bangkapos.com - Jumat, 1 Maret 2013 17:08 WIB
 

BTC | Belitung Travel Center

Hot Deal Wisata Belitung

More on this category »

Berita Utama

More on this category »
 
Support : Portal Berita Belitung | Belitung New and Entertainment Online | Berita Belitung
Copyright © 2011. Belitung Today - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger